
Siapa pengacara LBH yang mendampingi Anda? Kenali peran advokat, paralegal, dan relawan, serta hak Anda sebagai klien bantuan hukum.
Banyak orang yang datang ke lembaga bantuan hukum bertanya satu hal yang wajar: siapa sebenarnya yang akan menangani perkara saya? Pertanyaan itu penting karena tidak semua orang yang Anda temui di sebuah lembaga memiliki peran dan kewenangan yang sama. Ada advokat yang berhak beracara di persidangan, ada paralegal yang membantu di lapangan, dan ada relawan yang menyumbang tenaga. Istilah pengacara LBH sering dipakai untuk menyebut semuanya, padahal masing-masing berbeda. Artikel ini menjelaskan siapa saja yang mungkin mendampingi Anda, apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, serta hak yang Anda miliki sebagai klien, supaya Anda dapat bekerja sama dengan percaya diri.
Poin Penting dalam 30 Detik
Ringkasan cepatArtikel ini adalah penjelasan umum yang disusun pada Oktober 2026 berdasarkan peraturan yang disebut di dalamnya. Peraturan dan praktik dapat berubah, sehingga nomor pasal dan rincian teknis sebaiknya Anda cocokkan dengan naskah resmi di JDIH Nasional atau Peraturan BPK sebelum mengambil langkah hukum. Artikel ini tidak menilai orang atau lembaga tertentu.
Dalam percakapan sehari-hari, pengacara LBH berarti orang yang memberikan bantuan hukum atas nama atau melalui lembaga bantuan hukum. Kata “pengacara” sendiri adalah sebutan umum. Istilah yang dipakai dalam undang-undang adalah advokat, yaitu profesi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Karena itu, ketika seseorang disebut pengacara LBH, pertanyaan yang tepat adalah apakah ia advokat, dan bagaimana hubungannya dengan lembaga tersebut.
Hubungan itu bisa beragam. Sebagian advokat bekerja penuh waktu pada sebuah lembaga bantuan hukum. Sebagian bermitra, misalnya membantu perkara tertentu secara pro bono atau berdasarkan kesepakatan. Sebagian lain menjalankan kewajiban profesinya untuk membantu pencari keadilan yang tidak mampu. Undang-Undang Advokat, dalam Pasal 22 ayat 1, mewajibkan advokat memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu, dan tata caranya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2008.
Di luar advokat, lembaga bantuan hukum juga melibatkan orang lain dalam kerjanya, misalnya paralegal, relawan, dan staf pendukung. Mereka tidak otomatis disebut pengacara, dan peran mereka berbeda. Kejelasan ini bukan soal gengsi, melainkan soal tanggung jawab. Orang yang bertindak sebagai advokat memikul kewajiban profesi dan kode etik, sedangkan peran lain memikul tanggung jawab sesuai kedudukannya.
Satu hal lagi: kata “LBH” dalam pengertian umum merujuk pada lembaga bantuan hukum secara luas. Di Indonesia, LBH pertama berdiri di Jakarta pada 1970 dan berkembang menjadi jaringan yang dikenal sebagai YLBHI. Namun kini banyak lembaga dan organisasi lain menjalankan fungsi serupa, sehingga sebutan “pengacara LBH” tidak menunjuk pada satu organisasi tertentu.
Advokat, yang sehari-hari kita sebut pengacara LBH bila bekerja lewat lembaga bantuan hukum, adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan, sesuai ketentuan undang-undang tentang advokat. Seorang advokat tidak sekadar orang yang paham hukum. Ia terikat persyaratan profesi, sumpah atau janji, dan kode etik yang mengatur perilakunya terhadap klien, penegak hukum, dan sesama advokat.
Beberapa hal pokok yang perlu Anda ketahui. Pertama, hanya advokat yang pada umumnya berwenang menjadi kuasa hukum yang mewakili klien dalam persidangan perkara pidana dan perdata, sehingga ketika perkara Anda sampai ke pengadilan, orang yang berdiri di samping Anda sebagai pembela adalah advokat. Kedua, advokat terikat kewajiban menjaga rahasia klien. Ketiga, advokat tidak boleh menjanjikan hasil perkara. Keempat, advokat wajib menghindari konflik kepentingan, misalnya tidak boleh membela dua pihak yang berlawanan dalam perkara yang sama.
Kelima, advokat memiliki kewajiban bantuan hukum cuma-cuma bagi pencari keadilan yang tidak mampu. Pengacara LBH yang bekerja untuk lembaga bantuan hukum biasanya menjalankan kewajiban itu melalui lembaga, tetapi hubungan kerja dan pengaturan di dalam lembaga berbeda-beda. Anda tidak perlu menilai hal itu, cukup menanyakan siapa yang bertanggung jawab atas perkara Anda.
Keenam, advokat menjalankan profesinya dengan standar tertentu. Bila Anda ingin memastikan identitas profesinya, Anda berhak menanyakan dan lembaga yang sah biasanya bersedia menjelaskan. Rincian syarat dan pengawasan profesi advokat dapat Anda baca pada undang-undang tentang advokat di portal peraturan resmi seperti https://peraturan.bpk.go.id/ atau https://jdihn.go.id/, dan pertanyaan tentang organisasi profesi dapat Anda tanyakan langsung kepada lembaga.
Perlu dicatat, kewajiban dan kewenangan advokat berlaku sama baik ia bekerja untuk lembaga bantuan hukum maupun untuk kantor advokat berbayar. Bedanya terletak pada skema pembiayaan dan prosedur penerimaan perkara, bukan pada standar profesi yang seharusnya dijaga.
Paralegal adalah orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan hukum dasar dan membantu memberikan layanan hukum, biasanya di bawah bimbingan atau pengawasan advokat. Dalam skema bantuan hukum menurut undang-undang tentang bantuan hukum, pemberi bantuan hukum dapat melibatkan advokat, paralegal, dosen, dan mahasiswa fakultas hukum dalam pelaksanaan bantuan hukum. Rumusan rincinya perlu Anda cek pada naskah resmi undang-undang itu.
Peran paralegal di samping pengacara LBH sangat berharga, terutama di komunitas yang jauh dari pusat layanan. Mereka sering menjadi penghubung pertama antara warga dan lembaga. Mereka membantu mencatat kronologi, mengumpulkan dokumen, menjelaskan hak dasar, mendampingi warga mengurus administrasi, dan menjembatani komunikasi dengan advokat. Bagi banyak orang, paralegal adalah wajah pertama bantuan hukum yang mereka temui.
Namun peran paralegal punya batas. Pada umumnya, paralegal tidak bertindak sebagai kuasa hukum yang mewakili klien di persidangan perkara pidana atau perdata, karena kewenangan itu melekat pada advokat. Paralegal juga tidak seharusnya memberi kepastian hukum atas perkara yang rumit tanpa pengawasan advokat. Bila seorang paralegal menjanjikan hasil atau mengaku bisa “mengurus” perkara sampai putusan, itu tanda untuk berhati-hati.
Pembagian peran yang sehat tampak sebagai kerja tim: paralegal membantu pengumpulan fakta dan pendampingan awal, advokat menilai hukum dan menentukan strategi, dan keduanya berkomunikasi dengan Anda secara jelas. Tanyakan siapa yang akan menjadi penghubung Anda sehari-hari dan siapa advokat yang bertanggung jawab atas keputusan hukum.
Tabel berikut merangkum gambaran umum. Gambaran ini adalah panduan, dan tiap lembaga dapat mengatur pembagian kerja dengan cara yang berbeda.
| Peran | Biasanya melakukan | Umumnya tidak berwenang | Pertanyaan yang layak Anda ajukan |
|---|---|---|---|
| Advokat | Konsultasi hukum, pendampingan, menjadi kuasa hukum, beracara di persidangan | Menjanjikan hasil perkara; melanggar kerahasiaan klien | Siapa advokat penanggung jawab dan apa lingkup kuasanya |
| Paralegal | Menghimpun fakta dan dokumen, edukasi hak dasar, pendampingan awal, penghubung dengan advokat | Mewakili klien sebagai kuasa hukum di persidangan; memberi kepastian hukum tanpa pengawasan | Siapa advokat yang mengawasi dan bagaimana tugas Anda dibagi |
| Dosen atau mahasiswa fakultas hukum | Membantu kajian, konsultasi awal, dan edukasi dengan pengawasan | Bertindak sendiri sebagai kuasa hukum | Siapa pengawasnya dan apa batas tugasnya |
| Relawan atau staf pendukung | Administrasi, penerjemahan, pendampingan nonhukum, logistik | Memberi nasihat hukum atau mengambil keputusan hukum | Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan hukum |
Tabel ini bukan untuk menyuruh Anda curiga pada orang yang membantu. Sebaliknya, pembagian peran yang jelas melindungi Anda. Dengan mengetahuinya, Anda bisa mengarahkan pertanyaan hukum kepada orang yang tepat dan tidak menggantungkan keputusan penting pada orang yang tidak berwenang membuatnya.
Ketika Anda mengajukan permohonan ke sebuah lembaga bantuan hukum, alurnya biasanya melibatkan beberapa orang selain pengacara LBH. Petugas penerima mencatat identitas dan ringkasan persoalan. Paralegal atau staf menelaah kelengkapan dan menanyakan hal yang kurang jelas. Advokat menilai persoalan hukumnya, memeriksa konflik kepentingan, dan memutuskan bersama lembaga apakah perkara diterima serta jenis layanannya.
Bila perkara diterima, biasanya ada pembagian tugas. Satu atau beberapa advokat ditunjuk sebagai penanggung jawab. Paralegal atau relawan dapat membantu administrasi dan pendampingan. Dalam perkara besar, beberapa advokat dapat bekerja sebagai tim. Pada tahap ini, Anda berhak mengetahui siapa saja yang terlibat, siapa yang menjadi penghubung, dan bagaimana laporan perkembangan disampaikan.
Penting diingat bahwa lembaga bantuan hukum memiliki kapasitas terbatas. Karena itu, wajar bila keputusan penerimaan perkara melewati penilaian, dan wajar pula bila jawaban tidak datang seketika. Tugas Anda adalah menyediakan informasi yang jujur dan lengkap, merespons permintaan dokumen, dan menyampaikan perubahan keadaan. Tugas lembaga adalah menilai permohonan Anda, menjelaskan apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan, dan tidak menjanjikan hasil.
Dalam beberapa keadaan, lembaga dapat mengalihkan perkara kepada pihak lain, misalnya karena konflik kepentingan atau karena persoalan di luar lingkup. Pengalihan semacam itu seharusnya disampaikan dengan jelas dan disertai arahan. Anda berhak menanyakan alasannya.
Menjadi klien pengacara LBH tidak berarti Anda kehilangan hak untuk bertanya dan menentukan. Berikut hak yang secara umum layak Anda harapkan. Daftar ini adalah gambaran umum, bukan daftar yang menggantikan ketentuan peraturan.
Dalam perkara pidana, hak untuk didampingi penasihat hukum adalah prinsip penting. KUHAP baru, yaitu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 yang berlaku sejak 2 Januari 2026, mengatur hukum acara pidana yang berlaku sekarang. Rujuklah naskah resmi untuk rincian pasalnya.
Untuk perempuan dan anak yang berhadapan dengan hukum, ada pula kerangka khusus, misalnya Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan pedoman pengadilan tentang perkara perempuan berhadapan dengan hukum. Pendamping yang baik memahami pendekatan berperspektif korban dan tidak menyalahkan Anda.
Hubungan dengan pengacara LBH berlangsung dua arah. Selain hak, ada tanggung jawab yang wajar dari Anda sebagai klien, dan memenuhinya membuat pendampingan berjalan lebih lancar. Pertama, berikan informasi yang benar dan lengkap, termasuk bagian yang tidak menguntungkan Anda. Advokat tidak dapat menyusun strategi yang realistis bila fakta penting disembunyikan.
Kedua, jangan memalsukan dokumen atau meminta advokat mengubah fakta. Advokat tidak akan membantu perbuatan yang melanggar hukum, dan itu sah. Ketiga, tanggapi permintaan dokumen dan informasi tepat waktu. Tenggat hukum tidak menunggu, dan keterlambatan Anda dapat memengaruhi hak Anda. Keempat, hadiri jadwal pertemuan, pemeriksaan, atau persidangan yang telah disepakati, dan beri kabar bila berhalangan.
Kelima, ikuti arahan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perkara berjalan, misalnya jangan menghubungi pihak lawan atau memposting rincian perkara di media sosial tanpa berkonsultasi. Keenam, hormati batas layanan dan waktu lembaga. Lembaga bantuan hukum menangani banyak orang, sehingga kesabaran dan komunikasi yang sopan sangat membantu.
Ketujuh, jelaskan bila ada perubahan keadaan, misalnya Anda berdamai dengan pihak lawan, menerima surat baru, atau berganti alamat. Dan kedelapan, bila Anda mampu dan layanan awalnya cuma-cuma karena keadaan tertentu, sampaikan perubahan kondisi ekonomi secara jujur bila ditanyakan. Kejujuran menjaga bantuan tetap tersedia bagi yang benar-benar membutuhkan.
Memastikan identitas bukan sikap tidak percaya, melainkan kebiasaan yang sehat. Langkah berikut dapat Anda ikuti dengan sopan.
Perlu dicatat bahwa situs ini bukan sumber alamat atau daftar resmi lembaga atau advokat mana pun. Bila Anda perlu memverifikasi sesuatu, rujuklah sumber resmi.
Hati-hati pula terhadap pihak yang mengaku sebagai pengacara LBH tetapi menolak menyebutkan identitas, meminta pembayaran di muka dengan janji menang, atau meminta kata sandi dan kode verifikasi. Itu tanda bahaya yang lazim pada penipuan berkedok bantuan hukum, dan tidak sesuai dengan cara kerja pendamping yang bertanggung jawab.
Salah satu hal yang kadang mengejutkan klien adalah ketika lembaga atau pengacara LBH menolak mengambil perkara karena konflik kepentingan. Konflik kepentingan muncul, misalnya, ketika lembaga atau advokat sudah mendampingi pihak lawan Anda dalam perkara yang sama atau berkaitan, atau ketika ada hubungan yang membuat mereka tidak dapat bertindak sepenuhnya untuk kepentingan Anda.
Penolakan karena konflik kepentingan tidak menilai persoalan Anda. Itu bentuk perlindungan bagi Anda, karena advokat yang berada di posisi bertentangan tidak dapat membela Anda dengan sepenuh hati. Lembaga yang baik menyampaikan penolakan itu dengan sopan dan, bila memungkinkan, mengarahkan Anda ke jalur lain.
Penolakan juga dapat terjadi karena kapasitas, lingkup, atau karena perkara tidak memenuhi kriteria. Bila itu terjadi, mintalah penjelasan dan arahan. Anda dapat mencoba lembaga lain, layanan pos bantuan hukum di pengadilan sesuai PERMA Nomor 1 Tahun 2014, atau jalur lain yang relevan. Jangan menyerah, dan jangan menunda bila ada tenggat berjalan.
Terakhir, ada hal yang perlu dipahami tentang lingkup waktu. Lembaga bantuan hukum biasanya menilai permohonan sebelum menyatakan menerima, dan penilaian itu membutuhkan waktu. Karena itu, hubungi lembaga sedini mungkin, dan sampaikan tenggat yang berjalan di awal. Tenggat yang disampaikan sejak awal membantu lembaga menentukan prioritas.
Sebagian besar hubungan klien dan pengacara LBH berjalan baik. Namun bila Anda merasa ada masalah, misalnya komunikasi tidak jelas, janji tidak dipenuhi, atau Anda merasa tidak dihargai, ada langkah yang dapat Anda tempuh. Pertama, sampaikan keberatan secara jelas, sebaiknya tertulis, dan sebutkan hal konkret yang menjadi persoalan. Banyak masalah selesai pada tahap ini.
Kedua, minta pertemuan atau penjelasan dari penanggung jawab lembaga, bukan hanya dari orang yang menjadi sumber masalah. Lembaga yang bertanggung jawab biasanya memiliki mekanisme internal untuk menanggapi keluhan. Ketiga, tanyakan apakah penanganan dapat dialihkan kepada advokat lain bila hubungan sudah tidak sehat.
Keempat, Anda berhak mengakhiri kuasa sesuai ketentuan. Namun, pahami lebih dulu konsekuensinya bagi perkara yang berjalan, terutama bila ada tenggat atau jadwal sidang yang dekat. Mintalah dokumen Anda dikembalikan dan salinan berkas diberikan.
Kelima, bila Anda menduga ada pelanggaran kode etik oleh advokat, tanyakan jalur pengaduan yang tersedia melalui organisasi profesi advokat atau sumber resmi. Jangan membagikan rincian perkara di media sosial sebagai ganti jalur resmi, karena hal itu dapat merugikan Anda sendiri. Dan keenam, catat semua kejadian dengan tanggal agar Anda dapat menjelaskan dengan runtut.
Perlu dicatat, ketidakpuasan tidak selalu berarti ada pelanggaran. Kadang yang terjadi adalah perbedaan harapan, misalnya Anda mengharapkan hasil tertentu yang memang tidak dapat dijanjikan. Karena itu, diskusikan harapan sejak awal agar tidak muncul kekecewaan di belakang.
Berikut contoh ilustrasi fiktif untuk menggambarkan pembagian peran. Tokoh dan peristiwanya tidak merujuk pada orang atau lembaga nyata.
Ibu L, seorang pekerja yang menerima surat pemutusan hubungan kerja, mengajukan permohonan melalui kanal pengaduan sebuah lembaga bantuan hukum. Yang pertama membalas adalah seorang paralegal. Ia menanyakan kronologi, daftar dokumen, dan apakah ada tenggat. Ia juga menjelaskan bahwa permohonan akan dinilai oleh advokat dan bahwa ia belum dapat memberi kepastian apa pun tentang hasilnya.
Beberapa hari kemudian, seorang advokat menghubungi Ibu L untuk menanyakan beberapa hal yang kurang jelas dan menjelaskan secara umum jalur penyelesaian perselisihan hubungan industrial, termasuk perundingan, mediasi, dan pengadilan hubungan industrial. Advokat itu juga menyampaikan bahwa lembaga perlu memeriksa kemungkinan konflik kepentingan sebelum memutuskan.
Setelah lembaga menyatakan dapat menindaklanjuti, advokat menjelaskan lingkup layanan dan menyiapkan surat kuasa. Ibu L meminta waktu untuk membacanya, menanyakan siapa penghubung sehari-harinya, dan menerima salinan. Paralegal menjadi penghubung untuk pengumpulan dokumen, sedangkan advokat bertanggung jawab atas keputusan hukum dan, bila perkara sampai ke pengadilan, atas pembelaan.
Dari contoh itu terlihat bahwa Ibu L, klien pengacara LBH, selalu tahu siapa yang berbicara dengannya dan apa kewenangannya. Tidak ada janji menang, tidak ada permintaan uang di muka sebelum kejelasan layanan, dan tidak ada orang yang bertindak melampaui perannya. Itulah gambaran hubungan yang sehat antara klien dan pengacara LBH.
Tidak. Sebuah lembaga bantuan hukum biasanya melibatkan advokat, paralegal, relawan, dan staf pendukung. Advokat adalah profesi yang diatur undang-undang dan berwenang menjadi kuasa hukum di persidangan, sedangkan paralegal dan relawan membantu dengan peran berbeda dan umumnya di bawah pengawasan. Tanyakan sejak awal siapa pengacara LBH penanggung jawab perkara Anda dan apa peran orang lain yang berinteraksi dengan Anda, lalu catat jawabannya.
Pada umumnya, tidak. Kewenangan menjadi kuasa hukum yang mewakili klien di persidangan perkara pidana dan perdata melekat pada advokat. Paralegal membantu mengumpulkan fakta dan dokumen, memberi edukasi hak dasar, dan mendampingi dalam urusan awal. Bila ada pihak yang mengaku bisa mewakili Anda di persidangan tanpa menjadi advokat, tanyakan dasar kewenangannya dan cocokkan dengan sumber resmi, sebelum Anda menandatangani apa pun.
Itu bergantung pada kebijakan dan skema layanan tiap lembaga. Bantuan hukum cuma-cuma bagi orang atau kelompok orang miskin diatur dalam undang-undang tentang bantuan hukum, tetapi tiap lembaga menilai permohonan secara mandiri dan dapat berbeda dalam praktik. Tanyakan sejak awal apakah ada biaya, untuk apa, dan minta penjelasan tertulis. Waspadai permintaan uang di muka yang disertai janji menang.
Anda berhak mengakhiri kuasa pengacara LBH sesuai ketentuan, tetapi sebaiknya memahami konsekuensinya lebih dulu, terutama bila ada tenggat atau jadwal sidang yang dekat. Sampaikan keberatan secara jelas, tanyakan apakah penanganan dapat dialihkan di dalam lembaga, dan pastikan dokumen serta salinan berkas Anda dikembalikan. Catat tanggal dan alasan agar prosesnya tertib, dan simpan semua korespondensi dengan lembaga.
Sampaikan keberatan secara tertulis kepada penanggung jawab lembaga terlebih dahulu. Bila Anda menduga ada pelanggaran kode etik profesi, tanyakan jalur pengaduan yang tersedia melalui organisasi profesi advokat atau sumber resmi. Kumpulkan bukti berupa pesan, dokumen, dan catatan tanggal kejadian. Hindari menyebarkan rincian perkara di media sosial, karena dapat merugikan Anda sendiri.
Jika Anda ingin bertanya kepada pengacara LBH di lembaga kami, gunakan Pos Pengaduan Online Gratis di situs ini atau hubungi telepon dan WhatsApp 0811-6741-212, yang dapat dihubungi 24 jam. Kami akan menilai permohonan Anda dan menjelaskan langkah yang mungkin ditempuh, tanpa menjanjikan hasil tertentu.
Catatan penting: Artikel ini berisi penjelasan umum dan bukan nasihat hukum untuk perkara tertentu. Setiap perkara berbeda dalam fakta, bukti, dan tenggatnya, dan peraturan dapat berubah. Konsultasikan persoalan Anda dengan advokat sebelum mengambil keputusan.
Siapkan kronologi singkat dan dokumen pendukung untuk membahas langkah yang sesuai dengan keadaan Anda. Hubungi LBH Panglima Hukum & Keadilan untuk memperoleh informasi dan menyampaikan kebutuhan pendampingan hukum Anda.
Membutuhkan bantuan hukum cuma-cuma? Pelajari syarat dan alur layanan Pro Bono LBH Panglima Hukum dan Keadilan.